Skip to content

Kisah Abu Dzar dan Ummu Dzar

December 13, 2012

Syahdan, ketika Abu Dzar tengah menghadapi kematiannya, Ummu Dzar menangis. Abu Dzar bertanya, “Apa yang membuatmu menangis?” Ummu Dzar menjawab, “Bagaimana aku tidak menangis. Engkau wahai Abu Dzar, wafat di tengah padang sahara, sementara aku tidak memiliki kain yang cukup untuk menyelimuti tubuhmu.” Abu Dzar bergumam lembut, “Jangan menangis Istriku. Terimalah kabar gembira, karena aku pernah mendengar Rasulullah Shalallahu ‘alayhi wasallam bersabda, ‘Sungguh akan ada seseorang diantaramu yang wafat ditengah padang sahara, disaksikan oleh serombongan kecil kaum muslimin.’ Masing-masing dari yang mendengar hadits tersebut pada saat itu, telah meninggal di sebuah perkampungan atau ditengah orang ramai. Hanya aku saja yang tersisa, yang tampaknya akan meninggal ditengah sahara itu. Sungguh aku tidak berbohong dan tidak akan mungkin dibohongi. Kini, tataplah jalan didepan matamu.” Ummu Dzar berkata, “Tetapi orang-orang yang berhaji sudah pergi berlalu, dan jalannya tak bisa ditempuh lagi.” Abu Dzar berkata, “Cobalah perhatikan jalannya baik-baik.”

Ummu Dzar menuturkan, “Akupun mendatangi sebuah gundukan tanah, lalu mencoba mencari-cari jalan. Akhirnya aku terpaksa kembali dan merawatya lagi. Saat aku dalam kondisi demikian, tiba-tiba dihadapanku terlihat sekelompok lelaki yang sedang berada diatas kendaraan mereka, dari kejauhan nyaris mirip dengan seekor burung garuda besar. Mereka menuju kearahku, hingga berdiri tepat dihadapanku. Mereka bertanya, ‘Ada apa denganmu, wahai hamba Allah?’ Aku menjawab, ‘Ada seorang muslim yang akan meninggal dan memerlukan bantuan kalian untuk mengkafaninya.’ Mereka bertanya lagi, ‘Siapa lelaki itu?’ Aku menjawab, ‘Abu Dzar’. Mereka berntanya lagi, ‘Abu Dzar shahabat Nabi Shalallahu ‘alayhi wasallam?’ Aku menjawab lagi, ‘Tentu saja’ Ummu Dzar melanjutkan, ‘Merekapun menjawab ayah dan ibu mereka sebagai tebusan, lalu dengan gerak cepat mengurusnya masuk menemuinya. Abu Dzar menyambutnya dan berkata, ‘Aku pernah mendengar Rasulullah Shalallahu ‘alayhi wasallam bersabda, ‘Sungguh akan ada seorang diantaramu yang wafat di tengah sahara, disaksikan oleh serombongan kaum muslimin.’ Masing-masing dari yang mendengar hadits itu telah meninggal di sebuah perkampungan atau ditengah orang ramai. Yah, akulah yang meninggal ditengah sahara itu. Kalian dengar, ‘Seandainya aku memiliki secarik kain yang cukup untuk menyelimuti diriku, atau untuk menyelimuti tubuh istriku, pasti aku gunakan kainku atau kain istriku itu. Kalian dengar, bahwa aku jadikan kalian sebagai saksi, aku tak mengizinkan seorangpun diantara kalian mengkafaniku, kalau ia seorang penguasa, pengawas, kurir pengantar surat, atau seorang pemuka.” Ternyata semua orang yang hadir disitu pasti memiliki salah satu dari beberapa kriteria yang disebutkan oleh beliau, kecuali seorang pemuda anshar. Pemuda itu berkata, “Wahai pamanku, biar aku yang mengkafanimu, karena aku tidak memiliki satu pun kedudukan yang engkau sebutkan. Aku akan mengkafanimu dengan sorbanku ini dan kedua baju didalam aibah-ku ini, hasil tenunan ibuku sendiri yang sengaja dijahitnya untuk diriku.” Maka pemuda anshar itupun mengkafaninya dalam rombongan yang ikut menyaksikannya, diantara mereka terdapat Hujjar bin al-Abdur dan Malik bin al-Asytar. Mereka adalah rombongan kafilah yang kebetulan kesemuanya keturunan Yaman.

Maha suci Allah! Begitu hebatnya kepribadian seorang Abu Dzar dan tak kalah hebatnya kesetiaan seorang Ummu Dzar.
Apakah Ummu Dzar seorang wanita yang sengsara? Karena, sedemikian hebat derita yang dia rasakan, termasuk harus kehilangan suaminya yang tercinta, ditengah padang sahara? Tidak, sama sekali tidak. Ia adalah wanita pilihan. Justru keteduhan hatinya dan kesetiaannya yang sedemikian hebat, yang mendorongnya untuk mampu bertahan sebagai istri seorang Abu Dzar. Semoga Allah memberikan rahmat-Nya kepada mereka berdua. (Dari Risalah Abu Dzar oleh Khalid Abu Shalih)

Kisah mereka adalah kisah dua insan yang terlibat percintaan di jalan Allah. Cinta mereka terbalut oleh nuansa iman yang begitu kental, yang menyebabkan Ummu Dzar secara tulus mau menemani suaminya menghabiskan usia dengan mengasingkan diri. Keterasingan bukan hal yang menakutkan bagi Ummu Dzar, selama itu dihabiskan bersama suaminya tercinta, Abu Dzar, Shahabat agung yang begitu memukau kepribadiannya.

Tambahan Dari Abu Yusuf ,
Faidah-Faidah yang dapat kita ambil dari kisah ini :

  1. Kesetiaan dan pengabdian Ummu Dzar dalam merawat dan menemani Suaminya hingga Akhir hayat.
  2. Ketabahan Abu Dzar dalam menghadapi maut.
  3. Perkataan Abu Dzar tidak mengindikasikan dia tahu yang ghaib akan tetapi dia mengimani apa yang disabdakan oleh Rasulullah shalallahu ‘alayhi wasallam kepada para shahabat termasuk dirinya.
  4. Abu Dzar seorang Shahabat yang terkenal sangat Wara’ atau sangat menjaga dirinya dari Harta yang Syubhat (Tidak jelas) sehingga kain kafanpun dia memilih dari sang pemuda yang jauh dari hal-hal yang meragukan.
  5. Salah satu keutamaan Abu Dzar, sehingga dia disebut dalam khabar dari Rasulullah shalallahu ‘alayhi wasallam, sebagaimana Hudzaifah ibnul Yaman yang diberitahu oleh Rasulullah shalallahu ‘alayhi wasallam nama-nama orang munafik.

    Wallahu Ta’ala a’lam bish-showab…

Sumber : kitab “Sutra Romantika, meneladani perilaku Nabi Shalallahu ‘alayhi wasallam yang Romantis agar pasutri selalu Harmonis” oleh Ustadz Abu Umar Basyir

Advertisements

From → Uncategorized

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: